Jumat, 09 Desember 2011

c a m e l i a

prolog


Aku mengenalnya sebagai wanita lembut yang terlalu lama dan lelah menanti cinta. Bagiku, wajah cantiknya melambangkan kesempurnaan akan kesabaran yang terbalut kepercayaan mutlak. Tutur kata santun menghiasi nada indah yang tercipta lewat tulus do’a, dan mengurai kisah tak begitu indah. Meski tak sempurna, namun dia tetap sosok malaikat ungu dalam malam syahdu. Dia membebaskan hatinya untuk terbang bagai burung camar, sesekali menyambangi laut dan tergores akan karang. Dia berusaha menata selalu puing hati yang rapuh. Dia, wanita tegar yang diam – diam menangis dalam malamnya dan merindukan esok ceria


Aku mengenali senyum lembutnya dan sapanya yang terlantun khas tanpa cela. Bukan bermaksud menjadi tuan serba tahu, tapi aku merasakan beban berat dalam mimpinya. Tersenyum meski bulir bening perlahan turun melewati pipinya. Getar tak berjudul membekap seluruh kesempurnaan kerapuhan. Sekali lagi, aku yakin, airmata itu kembali menetes.


# 1
Kami bertemu di sebuah taman yang indah, dia sudah menantiku dalam hamparan rumput hijau nan indah. Senyum mengembang merona menyambut kehadiranku. Dia selalu cantik dalam warna apapun. Dan aku tahu, kali ini, dia sedang jatuh cinta.


Aku menikmati binar matanya, berpendar – pendar bercerita tentang kisah, secuil harapan yang membuncah dari puing kekecewaan. Aku ingin meraihnya dan mengatakan tentang kekhawatiran, tapi aku tak mampu mengungkapkan rasa dalam kegembiraannya.


Dia bercerita tentang seorang pangeran tampan yang mencintainya, lewat puitis nada yang mengalun melewati sungai jernih, mengikuti arus air berlari. Pangeran yang meyakinkannya akan mimpi indah tentang kedamaian atas nama cinta. Seorang pangeran yang mengulurkan tangan menghangat bathin. Kini dia yakin akan kenyataan yang indah, yang mampu melukiskan alam dan kuasanya dalam kesempurnaan warna. Pangeran datang menyibakkan hati yang kering dan menjentikkan jari, hatinya bersemi lagi


“Aku bergetar menerima karunia ini, inilah isi hidup yang selama ini aku nanti”


Aku tersenyum menyimak kalimatnya. Serasa nelangsa yang selama ini mendera bathinnya lenyap begitu saja. Meski perih yang tertancap tak mampu mulus menjelma tawa. Dia tersenyum, hanya tersenyum tanpa membagi cerita lewat bibirnya. Dan aku menjadi semakin peka dengan detak jantungnya, mendengarkan setiap makna arti sang pangeran dalam kegembiraannya. Aku berbahagia untuknya, namun keresahan itu menderaku. Seperti menyaksikan dia berjalan riang menuju jurang, melewati taman bunga yang indah, bersama kupu – kupu warna warni. Aku tak mampu mengusik bahagianya, namun aku tak mampu mengusik rasaku kepadanya.


Kami berbaring di bawah pohon rindang menyejukkan, menatap langit biru dan bermain dengan awan. Dia sangat cantik hari ini, menuangkan warna jingga menjadi ceria. Kami terlalu sering melakukan ini. Berbaring diam dalam masa, menanti awan menerjemahkan setiap kata dan rasa. Bukan aku tak ingin bersamanya hari ini. Namun aku tak ingin pemilik wajah tulus ini terjatuh lagi.


# 2
Hari ini genap tiga ratus hari aku tak bertemu dengannya. Hanya pesan bahagia yang selalu menyapaku dalam semua media. Dan cerita sang pangeran yang berubah masa menjadi ksatria perkasa yang menempuh jalan berliku untuk menyempurnakan cinta. Tiga ratus hari tak mampu mengusik rasa ini, saat ketidaksempurnaan menjadi penghalang akan perayaan cinta, aku mendesah diam – diam, dalam kelam, menitipkan do’a pada langkahnya.


Hari ini aku mengenang kisah kami, bukan kisah cinta bak puisi romeo & Juliet. Namun kisah pertautan rasa damai dan percaya. Semua indah bersamanya dan cerita nyata bermula. Kerinduan yang selalu dia ajarkan menuntunku ke sana, sebuah tempat damai yang selalu menjadi rangkaian cerita indah. Menyesapi damai embun yang menatap kami penuh canda. Aku ingin menyampaikan pesan tentang sang pangeran, entah lewat burung atau semilir angin, tentang sang pangeran yang memiliki banyak permaisuri selain dia, tentang sang pangeran yag tak sesempurna mimpinya. Aku ingin membawanya pergi, menyelamatkannya dari tawanan sang naga dalam kastil tinggi yang menakutkan.


Aku terus berlari mengejarnya. Mencoba berbicara tentang kemuraman yang ku ketahui. Namun tiap kali mengingat bening bola mata yang memancarkan harap, aku mengutuk keberanianku akan menghancurkan cerita bahagianya. Aku menyesal tak pernah mengatakan hal ini, namun aku selalu menitipkan bulir asa lewat pelangi yang muncul di sore hari. Aku berharap sang naga berbaik hati mengantarkan dia ke taman ini suatu saat, ketika sang pangeran pergi jauh, atau saat sang pangeran menyakitinya.


Dia mengirimkan pesan searah kepadaku, lewat merpati putih berwajah duka. Surat penuh cerita indah akan pangeran dan sang puteri. Mungkin hanya rasaku yang tak rela menyaksikan wanita berhati mulia mendapatkan cintanya dengan cara ini. Kembali aku mengutuk rasaku yang juga mampu sempurna dalam misi mendendangkan cinta. Kenyataannya aku berbicara kepada awan, dalam baringku sendiri di bawah pohon rindang. Dan awan menertawakan rasaku, berubah bentuk menjadi tangan yang menahan langkahku


“Tak perlu kau berlari, mengejar mimpi yang tak pasti, hari ini juga mimpi, biarkan saja dia datang di hatimu”


Keindahan itu sempurna, aku yang menjadikannya tak sempurna. Aku mohon maaf untuk itu.


# 3
Hari – hari ku lalui dengan keyakinan dia telah bahagia. Tinggal aku saja yang berusaha menyakinkan diriku akan ketidakbenaran kemuraman itu. Semua berjalan sebagaimana embun muncul di pagi hari, menebarkan sejuk yang tak pernah mampu dilukiskan dalam warna dan dimensi apapun, lalu menyambut mentari yang menawarkan hangat melenakan pagi dan member warna terang dalam langkah menanti sang sore hadir dalam redup yang selalu mengingatkanku padanya, semilir angin yang lalu menyertakan senyumnya, lalu petang akan menghantarkanku pada kenyataan aku tetap sendiri dan menyimpan pesan yang tak pernah aku sampaikan, dan kusesali dalam malam panjang yang terus menghadirkan wajahnya. Pada masa ini aku akan menangis dan meratap, tentang pesan tersirat yang dia kirimkan berates kali, aku tak pernah bisa menyelamatkannya dalam kurungan menara tinggi sang pangeran yang di jaga naga jahat.


Aku bergetar melihatnya. Duduk di bawah pohon rindang dalam diam. Aku tahu dia menungguku, menghadiahiku seulas senyum dan binar mata indah. Dia bercerita tentang cintanya pada sang pangeran, tentang ekspresi cinta yang tak pernah mendapat respon positif, tentang cinta yang nyatanya tak pernah mendapat tempat selayaknya. Aku meracau, aku mengetahui kemuraman ini, namun tak pernah mampu menerjemahkannya dalam bahasa apapun. Dia menangis, memelukku dan memohon maaf. Dia menerima semua pesanku, lewat angin, lewat kicau burung, lewat pelangi dan bahkan lewat awan yang menjadi musuhku. Namun dia menerima itu sebagai bentuk cinta, meski terkoyak, meski terluka, meski tak pada tempatnya.


Dia menunjukkan sebuah batu di dekat sungai, tempat kami biasa bercerita, dia menuliskan namanya dan nama sang pangeran, dia berpesan kepadaku untuk menjaga batu itu dan menunjukkan pada sang pangeran suatu waktu. Bathinku menggeleng, namun kepalaku mengangguk, bagaimana mungkin seorang yang telah melukai hatimu begitu dalam mendapat ukiran nama di batu yang tak mungkin akan terhapus. Aku menganggap dia berlebihan, meninggalkan logika dalam cinta yang tak terbalas nyata. Dia ingin tinggalkan kenangan dan kenangan.


Aku menantinya di sebuah batu besar dan memainkan gitarku, tentang lagu cinta yang menderu, dia datang dengan senyum ramah penuh cinta. Nafasku tercekat, aku merasakan cinta yang luar biasa darinya, untukku. Camelia memetik bunga ungu dan menyelipkan pada tali gitarku. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Mencoba mengisi bait – bait cinta dengan suara lemahnya. Entah apa yang ada di otakku, aku tak mampu melihat bunga itu. Sejuta rasa kecewa membuncah dan kemarahan pada sang pangeran membuatku mencabut bunga dan membuangnya. Dia tersentak, menatap dan memungut bunga itu, dia bersihkan bunga itu dengan air mata mulai menetes. Aku minta maaf, kekasihku,..


Namun kalimatku tercekat pada hitungan detik. Dia berlari sambil menangis, mendekap erat bunga itu, berlari tanpa bisa ku kejar, merasakan seluruh tubuhku membatu dan terpaku pada bumi dan menyaksikan pemilik hati yang putih itu pergi. Aku ingin bersamanya mendekap bunga itu, bunga yang terakhir. Memohon maaf atas salah dan khilafku.


# 4
Senja ini berwarna hitam, semilir angin tanpa cerita menyapaku dalam resah. Dia mengirimkan pesan untuk bertemu disini, bukan taman indah di pinggir sungai yang menjadi tempat pertemuan kami. Pesan yang kubaca dia menantiku di tengah ladang, aku pernah ke sini sekali bersamanya, bukan di senja yang menyiratkan senyap. Aku mencarinya, duduk dan tersenyum. Aku masih mencarinya.


Di ujung pematang, dia berdiri, memakai baju putih diantara ribuan kembang, langit di atas rambutnya berwarga merah tembaga, Dia memandangku dalam basah airmata di pipinya. Aku mendengar getar bibirnya memanggilku, menyampaikan kerinduan dan cinta yang mendalam kepadaku. Mengirimkan kedamaian dan keindahan dalam kasih yang menyatu putih, berjuntai kenangan dan harapan yang membias meninggalkan pudar warna. Aku terpaku menatapnya, membisu dalam riuh kata yang ingin terucap. Menggores pedih dan luka atas cerita terakhir. Wanita dalam kalbu menatapku, mengirimkan cinta yang tak pernah habis buatku. Aku menatapnya, perlahan memudar dan hilang. Aku kehilangannya.


Sebuah batu hitam di atas tanah merah, tertulis namanya yang indah juga cerita hidupnya yang bermuara padaku. Kematiannya itu terasa menyesakkan, meninggalkan penyesalan mendalam atas sikapku yang nyata tak bersahabat, namun tetap menunjukkan cintanya yang tak pernah pudar berabad lamanya. Airmataku membangun sesal atas cinta yang tak pernah ku berikan tempat yang selayaknya, tentang namanya dan namaku di batu yang ku anggap berlebihan, untuk bunga yang ku cabut dari gitarku dan ku campakkan, kepada kesetiannya yang tak pernah ku balas, dan akulah sang pangeran yang tak pernah membuatnya menjadi puteri yang sebenarnya. Dan kembali menyalahkanku atas semua kelukaan yang dia alami.


Di sini aku tumpahkan rindu, ku genggam dan ku taburkan bunga unntuknya, berlutut dan menitipkan do’a, mimpi indahlah dia sang pemilik cinta, Tuhan ada di sampingnya dalam sorga abadi. Aku mencintaimu, Camelia,….


Epilog


Aku mengenalnya sebagai wanita lembut yang terlalu sering terluka cinta. Bagiku, wajah cantiknya melambangkan kesempurnaan akan kesabaran tak bertepi. Tutur santun indah tercipta lewat harapan tak hampa. Dia telah sempurna, membebaskan hatinya untuk terbang bagai burung camar, Dia telah memiliki hati utuh yang mendamaikannya. Dia, wanita tegar yang tak lagi diam – diam menangis dalam malamnya dan merindukan esok ceria.


Embun pagi tak lagi menyapaku dalam segarnya. Matahari memandangku sebagai pecundang. Sore menghantarkanku pada penyesalan mendalam kepadanya. Dan malam menghukumku dalam penantian panjang. Aku menunggunya kembali, membebaskan nasibku dari belenggu sepi.


Semarang, 9 Desember 2011, 08.45 WIB
terinspirasi oleh tembang Camelia #1,Camelia #2,Camelia #3,Camelia #4 karya Ebiet G. Ade yang sudah ku dengar berpuluh tahun yang lalu.

1 komentar: