Tampilkan postingan dengan label hela nafas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hela nafas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

lelah

dan,..

selalu dalam keadaan ini aku mengeluh
sebuah bathin yang tak lagi bisa memahami

lelah

semarang, 9 Oktober 2011

Selasa, 12 Agustus 2014

IKHLASKAN

Ya saya tahu

Saya bukan lagi sosok seperti dulu
Kenyataan telah merubah saya
Apakah yang masih tersisa?
Saya tak berani berharap

Sudah,..

Saya memang telah berubah
Saya bukan lagi hati yang kau kenal
Kepiluan telah menyayat saya sedemikian hebat
Tanpa pernah ada ruang tersisa

Bukankah semua menjadi pilihan
Tanpa pernah bisa sebuah kata terdengar
Jangan pernah disesali
Sesal tak pernah mengembalikan

Maafkan

Tak pernah ada yang tersisa
Semua pudar
Hancur
Tak lagi ada

Ikhlaskan saya,..
Ikhlaskan,...

semarang 12 Agustus 2014

Senin, 22 Juli 2013

AKU JATUH CINTA



Aku melihatmu dalam mimpi.
Tak sekalipun kau nyata dalam hidupku.
Selaksa angan aku merindumu.
Seperti angin seusai badai.

Hanya itu,.
Aku jatuh cinta padamu.
Dalam mimpi.
Kau tak pernah nyata.


Semarang, 22 Juli 2013

Rabu, 02 Mei 2012

sunyi

langkahku terhenti,..

sang surya berjingkat meninggalkan malam, dan embun bersiap menunaikan tugasnya.

aku menantimu di sini, dalam balutan kesepian

apakah kau mengerti?

Jumat, 19 Agustus 2011

Pulang



dan aku disini, selaksa berjalan tanpa tepi, kerontang tersapu panas yang tak juga melegakan,dan bulir sesal menyamai langkah,.aku lelah,..

tak juga mampu mengurai arti tangis dalam dada, ketika kerinduan tak lagi memiliki tema, seolah semua pergi tanpa pernah kusadari dan merenggut sekian makna dalam rasa, aku lelah,..

memilih terdiam dan berbicara tanpa kata, cerita tak juga menyurutkan resah, kedamaian menjadi mimpi, mulai terbang di awan, aku lelah,..

ketika aku pulang, aku ingin bertemu denganmu,..

Jumat, 12 Agustus 2011

s i a

menyusuri pasir - pasir,
selaksa menyusuri hati yang merindu,
menyebrang lautan
seumpama gejolak yang tak mampu kupahami.

kini aku tiba,
menjejakkan kaki
bersiap berlari menyambutmu,..

kau tak ada,..
tak pernah ada disini,..

aku meyakinkan hatiku,..
semua ini sia - sia,..


semarang, 7 Maret 2011, mengingat yang seharusnya,...

Jumat, 22 Juli 2011

hi dear

Hi dear.. Good morning,.

I know its 1.30 a.m, I still can't sleep.

A lot of things on my brain.
I don't have an idea to share with..
I don't know how to start,.
I don't know what I feel actually..
My knees so weak n I have my destination yet.
I'll try to sleep, hope God see me in my dream.

Love u..

- d -

samar ungu

Aku membutuhkannya, bukan hanya semacam password, namun kehadirannya dalam kenyataan. Hanya menemani dalam diam dan hening, namun berbalut kenyamanan utuh. Namun dia tak pernah mau mengerti dan tak sedikitpun peduli.



Selalu seperti ini, malam dingin, senyap dan aku tak juga terlelap,..



Kau menghampiriku diam – diam, merebahkan keindahan dalam relungku, menyapa dalam bisik mendamaikan. Aku menyerahkan cemasku pada rasa nyaman tak berkesudahan.



“Aku tak mengundangmu”



Kau tersenyum, mengerling dan menatap. Aku tak lagi mengharapkan kehadiranmu, tidak lagi setelah kau menghilang dan membuatku gelisah.



“kau tak perlu mengundangku untuk datang”



Kembali aku menyerah pada kenyataan. Ketika hembus angin tak pernah mampu memaparkan harapan yang pernah aku miliki. Dan seumpama banyak hati menghujam dan mendera. Kau tak perlu ku undang untuk datang, kemarin, sekarang dan selamanya…



Semarang, 22 Juli 2011

Rabu, 01 Juni 2011

My Soulmate Dearest,..

aku nggak akan pernah bisa memahami perasaanmu karena aku belum pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini, tapi bagaimanapun itu, aku tetap ada di sampingmu, siap mendengarkan keluhmu semalam apapun, menemanimu saat sepimu, tanpa pernah aku memberikan solusi terbaik, aku selalu berdo’a buatmu”



SMS itu pernah dikirim seorang sahabat yang berada ribuan kilometer dari kotaku saat aku terpuruk atas sebuah masalah. SMS yang ternyata mampu meredam dendamku atas semua kekesalan yang terjadi saat itu. Aku sangat hapal SMS itu meski tak lagi ada di inbox HP ku. Jujur aku sangat bersyukur membaca SMS itu, sebuah SMS yang sangat jujur untuk menghadapi seorang yang sedang tidak memiliki kepercayaan dalam bentuk apapun. Ditambah janji yang begitu menenangkan.

Meski janji mendengarkan keluh semalam apapun tak pernah aku tagih. Tapi dia benar – benar menemani saat sepiku dengan SMS terindahnya itu. Dan yang pasti, Aku merasa sangat kuat karena yakin ada yang selalu berdo’a buatku. Kejujurannya mengatakan bahwa dia tak pernah bisa memahami perasaanku karena memang dia belum pernah mengalami apa yang aku alami, membuatku semakin tenang karena akhirnya ada yang benar – benar memahami perasaanku.

Seringkali, kita – tepatnya aku – memberikan solusi yang “sok bijak” untuk menghibur seorang teman yang sedang berduka. Tanpa aku paham apa yang sebenarnya dia butuhkan. Aku selalu mengatakan “pasti kamu akan mendapat ganti yang lebih baik” pada temanku yang baru saja putus cinta dan ditambah dengan pendapat kilat tentang mantannya yang kubuat seolah penuh cela. Tanpa aku pernah memahami bahwa cerita sedih itu tidak membutuhkan hiburan akan pengganti yang lebih baik. Aku tidak menyangka jika “penghiburanku” itu membuatnya semakin nelangsa. Dan seterusnya aku tak lagi mendengar kisah sedihnya lagi, ku kira semua telah baik – baik saja, ternyata teman itu merasa aku tak lagi bisa memahaminya.

Semenjak membaca sms itu, aku berjanji akan memberikan perhatian yang nyata dan bukan hanya kata penghiburan. Karena doa tulus jauh lebih membantu meringankan nelangsa,….

Terima kasih buat sahabat tercinta yang tak pernah bosan mendengar ceritaku yang sering tidak runtut, dan tetap sabar mengajariku tentang ketulusan yang hakiki.

Semarang, 31 Mei 2011. 18.09 WIB

Jumat, 27 Mei 2011

untuk apa aku di sini

ketika kehadiran tak lagi menggetarkan
saat pandangan terasa tajam menghujat
dan seumpama kata berarti pisau merajang
atau kehangatan mulai meninggalkan makna

jika satu langkah menjadi jauh meninggalkan
menyerupai alasan yang tak kuat percaya
kenangan berasap menjauh asa
selaksa tak pernah terjadi apa

kalimatku tak pernah lagi tersusun indah
senyumku tak lagi merenda makna
sapaku tak terdengar

tercipta tanya
terburai mimpi

untuk apa aku disini,..

* semarang, 24 mei 2011. 18.22 WIB>

Selasa, 01 Februari 2011

Cerita Kepingan Hati

Suatu saat aku mengirim pesan kepada salah satu sahabatku. Isinya sangat singkat namun penuh harap : ”Aku tak ingin lelaki tampan, punya banyak harta dan kuasa. Aku hanya ingin lelaki itu, tak tampan tanpa tanpa harta dan kuasa. Mengapa sepertinya Tuhan enggan memberikannya padaku, apakah karena aku mengincar hatinya?”

Lalu sang sahabat menjawab : “Lelaki tanpa harta dan tahta tak akan berdaya melihat wanita tangguh, smart, carrier oriented dan bla bla bla sepertimu, apalagi untuk menikahinya”

Aku tertegun, lalu mataku memanas, sekuat tenaga aku menahan butiran airmata ini. kembali aku menulis pesan untuknya : “Lalu, salahku dimana?”

Jawabannya datang sangat cepat : “Kau tidak bersalah”

Aku mulai tak bisa membendung airmataku. Jemariku bergetar menulis pesan singkat untuknya, lagi : ”Apa yang harus aku hilangkan untuk mendapatkannya?, tangguh?, smart? Carrier oriented? Atau bla bla bla nya?”

Aku terisak dalam bathin. Cukup lama untuk menerima jawaban pesan. Sahabatku perlu waktu lumayan lama untuk menjawab pertanyaanku. Mungkin sedikit menyesal menunjukkan kenyataan kepadaku. Setelah setengah jam jawabannya datang : “tidak ada, mungkin memang dia bukan untukmu”

Aku tak lagi membalas pesannya. Aku terisak,..

Lalu aku sangat ingin bertemu Tuhan. Aku ingin mengadukan ketidakadilan ini. Namun aku ragu, apakah Tuhan punya cukup waktu untuk mendengarkan ceritaku ini. mungkin cukup picisan dan cengeng untuk aku yang hidup di era internet ini. namun kenyataannya kisah ini berulang, berulang dan berulang.

Entah apa yang salah denganku. Lelaki sepertinya “kalah set” dihadapanku. Jangan pernah membayangkan aku adalah sosok girl power yang juga dapat diartikan sebagai sosok judes, galak, egois dan sok menang di depan kaum lelaki. Aku sama dengan wanita lain, sangat sama.

Mungkin aku harus merunut kisahku dari zaman SMP. Masa ABG dimana semua memiliki kisah cinta monyet yang lucu dan tak masuk akal. Aku juga, aku sama dengan mereka. Aku juga punya pujaan hati yang hanya bisa kukagumi diam – diam. Namun aku juga berbeda dengan mereka. Aku tak punya keberanian untuk mengekspresikan apa yang aku rasa. Mama bilang akan sangat memalukan jika seorang lelaki mengetahui kita memiliki perasaan kepadanya. Mungkin mama bilang seperti itu karena aku masih SMP, tapi kata – kata mama itu begitu mempengaruhiku. Aku tak pernah mau mengakui aku menyukai teman lelakiku secara khusus, bahkan kepada teman – teman akrabku, bahkan untuk sekedar mengisi cerita SMP.

Tuhan memberiku, talenta yang luar biasa. Kecerdasanku di atas rata – rata (untuk ini aku mengacu pada nilai – nilai di raport dan keberanian mengungkapkan pendapat di depan publik – hanya pendapat tentang hal lain selain cinta). Kukira kecerdasanku akan membuai hati teman lelakiku, nyatanya tidak. Mereka enggan berteman akrab denganku, aku tak tahu pasti alasannya. Menurutku bukan karena fisik, karena nyatanya teman – teman yang tak lebih cantik dariku pun punya pacar. Dan aku sempat mendengar satu pernyataan alasan dari mengapa itu. Simple !! Aku terlalu pandai untuk berteman akrab dengan mereka, mereka minder dengan kecerdasanku. Aku melongo, aku cerdas alami, aku bukan kutu buku yang menghabiskan banyak buku untuk belajar, bahkan aku sangat malas belajar dan sempat “santai” saat nilai – nilaiku jatuh karena aku sama sekali tak memperdulikan pelajaran. Dan hal itu tak membantuku, mereka tetap melihatku sebagai sosok cerdas yang menakutkan. Mungkin yang salah teman – teman lelakiku, mereka takut dilihat kalah cerdas dengan perempuan. Ego laki – laki, aku harus mengakuinya,..

Kecerdasanku tak pernah ditakuti oleh teman – teman perempuanku. Aku masih ingat saat SMP ada satu gank perempuan cantik yang sangat arrogant, mungkin mereka semacam gank popular. Hanya karena aku dekat dengan seorang teman lelaki yang salah satu anggota gank itu sukai, mulailah terror itu menyapaku. Mereka menggunakan keadaan kulitku yang gelap sebagai salah satu materi pemboikotan terhadapku, bahasa politiknya mungkin black campaign. Disini aku mati langkah, aku serba salah. Cerdas salah, tak secantik mereka pun salah. Aku semakin memandang diriku berbeda. Aku semakin jauh dari cerita cinta monyet.

Aku tak pernah tahu jika ada beberapa teman sekolah yang menyukaiku. Mereka tak pernah mengatakan kepadaku. Mereka takut diledek, karena kalah pinter atau malu punya pacar yang kulitnya item sepertiku. Aku menjalani masa sekolahku hanya dengan berteman, berteman dan berteman. Tanpa rasa special yang bisa aku tunjukkan. Bahkan aku pernah mencintai seorang teman lelaki yang menjadi sahabat selama lebih dari separuh hidup kami dan dia tak pernah tahu sampai saat ini. Entah jika dia tahu setelah membaca tulisan ini.

Saat SMA aku merasa “butuh” punya pacar, secara teman – teman masing – masing punya. Bahkan Mita sudah enam kali berganti pacar. Aku mengiyakan seorang lelaki yang menyatakan cintanya padaku. Tanpa aku pernah yakin apakah aku juga menyukainya. Yang penting aku punya teman jalan. Namun hubungan ini juga tak bisa mulus. Usianya yang 4 tahun diatasku membuatnya merasa lebih pintar dariku. Dan aku yang berfikiran kritis tak bisa menerima kenyataan ini. Kata pisah menjadi kata yang sangat aku nantikan. Dengan keberanian yang luar biasa aku mengatakan “kita jalan sendiri – sendiri”, lalu dia menangis dan menanyakan alasanku, kujawab dengan segenap pikiran matang “karena kau ditaktor”, lalu dia memakiku dengan alasan perempuan tak tahu aturan. Aku yang saat itu delapan belas tahun mengerutkan dahi, kau tak mengerti, dia mengatakan aku tak tahu aturan karena aku tak mau mengikuti aturannya yang bagai tali kekang kuda. Meski aku tak menyalahkan keadaanku saat itu tapi aku terlanjur bersahabat dengan dendam, aku tak mau berjalan di belakang seorang laki – laki, aku harus berjalan di sebelahnya, sebagai partner, bukan pembantunya. Dan kalimat itu begitu merasuk dalam kalbuku dan menjadi mantera hariku. Dan aku akan takluk dengan lelaki yang menjadikanku sahabat hidupnya, menggandengku, bukan menyeretku.

Sebagai perempuan yang terus berproses menjadi seorang wanita, aku memiliki criteria kelewat tinggi untuk mengizinkan seseorang menempati tahta dihatiku. Beberapa nama dan cerita mampir dihidupku. Mendengarkan kidung cinta yang menggebu lalu berlalu begitu saja. Tanpa lara hati dan hanya sekedar umpatan.

Dan saatnya tiba, aku jatuh cinta dengan seseorang di usiaku ke dua puluh lima. Terjadi begitu saja, aku jatuh cinta pada sosok dewasa yang sangat bisa menjadikanku sahabat. Setidaknya dia sharing banyak hal kepadaku. Agaknya dia mengagumi kepintaranku. Aku melambung di awang – awang, akhirnya aku mendapatkan lelaki yang tak mempermasalahkan “kelebihan”ku ini. Lelaki ganteng itu meminta seluruh hati dan cintaku. Menjanjikan kehidupan yang apa adanya dan penuh lagu. Aku memberikannya, seluruhnya, sampai aku tak punya untukku sendiri. Aku mengubah beberapa bagian dari sifat dasarku untuk mengimbanginya. Aku tak pernah punya rasa marah saat bersamanya. Bahkan kesabaranku yang luar biasa itu menjadikan keanehanku diantara teman – teman yang mengenalku. Lalu, disuatu malam aku menemukannya dalam kegamangan (dia tak pernah tahu aku ada disana) dia sedang berbicara dengan Mamanya ditelepon, dia berbisik namun aku mendengarnya dengan sangat jelas “Andai dia berkulit putih, aku pasti sudah menikahinya”. Aku terhenyak, dia menginginkan hati, cinta dan otakku, fisik dan wajahku, namun dia tak menginginkan wana kulitku. Aku kembali bertanya – tanya, apakah alasan itu mutlak untuknya meninggalkanku. Dan benar, dia meninggalkanku dengan banyak hal yang tak terselesaikan dan menikah dengan wanita mirip denganku, hanya saja berkulit putih. Aku sedih, aku terluka bahkan nyaris tak mau lagi meneruskan hidup,..

Aku kembali berjalan dengan sisa cinta, percaya dan harapan. Aku tak yakin akan ada cinta indah buatku lagi, aku tak lagi punya percaya kepada lelaki dan aku tak berani berharap apapun dari kisah ini. Lingkungan tampak tak pernah peduli dengan apa yang aku alami. Pasti mereka menuduhku yang bermasalah. Aku bosan, aku lelah, aku muak,..

Aku harus berhasil menjadi seseorang. Agar tak ada lagi yang bisa mencurangiku. Aku memanfaatkan semua talenta yang Tuhan beri untukku berproses lagi. Dan aku berhasil membuktikan pada semua bahwa aku mampu, aku bisa menjadi seseorang yang tidak biasa. Aku yang tidak putih namun memiliki kemampuan luar biasa untuk berkarya. Aku kira inilah saatnya aku menunjukkan siapa diriku. Mungkin dengan semua yang telah terukir, para mantan menyadari kekeliruannya.

Menuju puncak karier, aku jatuh cinta dengan pria sederhana yang mampu menyejukkan rasaku yang sering bergejolak. Seorang pria yang tak pernah mempermasalahkan tubuhku yang semakin gendut, atau gaya pakaianku yang kadang – kadang tak lazim. Seseorang pria yang dapat menerima pribadiku apa adanya. Dan aku sangat bahagia menemukan saat itu. Aku mulai merancang satu kehidupan indah yang akan aku lalui bersamanya. Dia, dengan segenap ketulusan dan kesederhanaannya, menjadikan dia nyaris sempurna sebagai suami, ayah dan sahabat seumur hidupku. Apa yang dia ungkapkan selalu menjadi setetes air dalam bathinku yang bagai berada di padang pasir. Apa lagi yang aku cari. Tanganku tak pernah lepas menggenggam tangannya, merasakan aliran darah yang aku yakini milikku. Namun akhirnya pria itu harus menyerah pada titah ibu yang tak mengizinkan aku menjadi pendamping anaknya. Aku kira cinta kami cukup kuat untuk menerjang semua onak duri, membiarkan diri di ombang ambingkan ombak dan bersabar mendaki gunung. Berdua. Namun ternyata dia memintaku untuk meninggalkannya. Ada “kekhawatiran akan perbedaan status social kami”. Aku kecewa, aku lemas, masih saja ada alasan,..

Dalam kegelisahan dan keputusasaan yang luar biasa. Seorang laki – laki dari tanah seberang menyatakan keinginannya untuk meminangku. Aku mulai gamang, bukan cinta yang aku pikirkan, mungkin sudah saatnya aku berjalan dengan otak lalu hati. Aku memikirkan semua hal yang menjadi lamaran lelaki ini. Tentang konsep hidup berumah tangga dan keberadaanku yang harus mengikutinya ke kotanya. Aku butuh waktu khusus untuk memikirkannya. Dan alasan dia memilihku, karena aku sederhana, smart dan mandiri. Tuhan, lelaki ini yang kuimpikan. Dia yang menggugurkan semua beban ini. Aku menerima lamarannya. Semua baik – baik saja, hingga saat dia datang ke kotaku dan akan melamarku. Namun dia memutuskanku tanpa alasan tepat dihari pertunangan kami. Aku semakin tak mengerti ketika dia menikahi seorang gadis belia yang manja dan tak pernah kulihat ”smart” dalam dirinya. Aku tersia – sia,..

Kadang aku merasa, mungkin menjadi wanita biasa saja, tidak usah pintar, manja, bodoh namun cantik dan berkulit putih akan jauh lebih beruntung dariku,….

cerita tahun lalu,.....

Rabu, 26 Januari 2011

ungu

selalu saja terjadi,..
seperti ini,.

rasa yang sama,.
lagu yang tak jauh berbeda,..

aku enggan bertanya,.
serak, sakit dan berdarah,.

salahku,.
semua salahku,..
meski aku tak pernah tahu,..

Jumat, 10 Desember 2010

Mata Teduh Lelaki Kecil

Meeting setengah jam lagi, namun aku masih saja berada di coffee shop bandara, menunggu driver kantor yang tak juga datang. Aku menghela nafas panjang. Ini pertama kalinya aku datang lagi ke kota ini setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu. Kota ini menyimpan kenangan akan sosok yang sama sekali tak bisa aku lupakan, bahkan sepuluh tahun terakhir. Aku mengingat sepuluh tahun yang lalu. Aku melewati bandara ini untuk bertemu dengannya, melihatnya keluar dari coffee shop yang sama untuk menemuiku. Aku masih mengingat senyum manisnya mengembang, dan bau parfum khas nya yang ikut menyambut kedatanganku. Sosok yang benar – benar tak bisa tergantikan.

Seorang anak lelaki menatapku, dia duduk di sofa seberang, sendirian, menikmati es krim tanpa mengalihkan pandangannya, aku mencoba tersenyum, dia balas senyumanku. Aku seperti sangat mengenal senyumannya. Namun tak ada orang yang aku kenal di kota itu kecuali Senja, mantan kekasih yang tak pernah aku tahu kabarnya. Namun anak itu juga tak memiliki senyum Senja.

Senja,.. aku kembali mengingat sosok itu, lembut dan menyebar sejuk. Aku mengenalnya di sebuah galeri lukisan di Bali dan dia adalah salah satu pelukis yang karyanya ada di sana. Lalu kami bertukar nomor telepon dan melanjutkan asmara terbentang jarak. Namun benar aku tak pernah merasa Senja jauh dari kotaku. Setiap pagi Senja menyapaku lewat SMS, singkat saja, namun mengisyaratkan bahwa cintanya masih milikku, dan aku membawanya sebagai semangat hingga sore tiba dan dia bercerita tentang lukisannya yang mulai bercerita tentangku, hingga menjelang larut.

Lelaki kecil itu masih menatapku, sinar matanya menyorotkan kerinduan yang tak bertuan. Aku mengurungkan niatku untuk merokok, setidaknya aku tak mau menjadi contoh buruk bagi pemilik mata teduh itu. Hey,.. Aku mengingat mata teduh itu, sama seperti milik Senja, hanya saja mata teduh itu masih sangat bening, sedang milik Senja sering tertutup kacamata minusnya.

Kisah asmaraku dan Senja bagai kisah asmara di novel sastra. Penuh ungkapan cinta dan kerinduan. Yang terucap runtut dan bermakna. Ini kesan menyenangkan mengingat darah Senja kental warna seni. Tak sering bertemu, namun intens berkirim kabar dan berbicara seolah kami ada ditempat yang sama. Senja mengajariku untuk bersabar menjalani kerinduan hingga tiba waktu yang tepat. Aku belajar tentang cinta yang tidak biasa. Satu lukisan, Senja kirimkan kepadaku, lukisan seorang wanita yang seolah menunggu sesuatu di pantai, ketika aku tanya siapa inspirasi lukisan itu, Senja bilang, wanita itu adalah dirinya dan laut adalah harapannya. Selalu penuh simbol dan seni, aku mengingat Senja.

Perlahan si lelaki kecil turun dari tempat duduknya, berjalan ke arahku. Benar,. Dia berjalan ke arahku. Masih tersenyum dan mendekatiku.

”Boleh saya duduk di sini?”

Aku mengangguk, memperhatikan lelaki kecil itu meletakkan es krim nya dengan sopan di mejaku dan duduk tepat di depanku.

“Nama saya Akar, umur saya sembilan tahun,. Lebih..”

Aku kembali mengangguk, dia memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangannya. Bahkan dia telah asyik menikmati es krim cokelatnya. Aku mulai merasakan getaran aneh akan diri Akar. Ku harap dia anak biasa, bukan anak indigo yang akan meramal nasib burukku. Namanya yang tidak biasa seperti menyimpan suatu misteri yang sangat ingin aku ketahui.

”Saya hanya punya Mama, saya nggak pernah punya Ayah, kata Mama, Ayah saya tinggal di Pulau Biru, Om tahu dimana Pulau Biru?”

Lagi – lagi aku mengangguk. Akar menyebutkan kotaku sebagai kota Ayahnya. Dia tampak senang dengan arti anggukanku. Mungkin dibenaknya muncul tentang sosok ayahnya, dan aku sebagai orang yang tahu dimana pasti dimana kota itu berada.

”Kata Mama, Ayah nggak bisa bersama kami, karena Ayah telah memilih jalan lain untuk hidupnya”

Aku mengangguk – angguk. Bocah usia sepuluh tahun dipaksa untuk mengerti mengapa orang tuanya tak bisa bersatu. Aku ingin tahu, orang tua macam apa yang tega membuat mata teduh ini muram. Dadaku sesak, seolah merasakan duka yang harus ditanggung lelaki kecil yang belum juga melawati sepuluh tahun pertamanya.

”Suatu saat saya akan ke Pulau Biru Om,. Saya ingin ketemu Ayah”

Tiba – tiba saja dadaku bergetar hebat. Inilah sorot kerinduan yang dari tadi aku rasakan. Akar rindu bertemu ayahnya.

“Saya hanya ingin bilang sama Ayah. Mama dan saya Sangat mencintai Ayah”

Aku tertegun, lidahku kelu, aku tak mampu berfikir. Hanya kerinduan yang membara yang aku rasa, kerinduan yang tak pasti kapan dapat terobati. Aku ingin membantu Akar untuk bertemu dengan ayahnya. Andai saja Akar tahu alamat sang ayah,..

“Akar tahu nama Ayah Akar?” Inilah kalimat pertamaku untuk Akar.

Akar terdiam, tertunduk, menjauhkan cup es krim dari tangannya, lalu kedua tangan mungil menutup wajahnya. Akar mulai terisak. Aku tertegun. Kerinduan ini membuatnya terisak.

”Akar, nama Ayahnya Akar”

Aku tersentak, suara lembut itu tiba – tiba terdengar. Seperti suara yang pernah sangat dekat dan kugilai. Aku menengadahkan wajahku, mencari asal suara. Aku tertegun, wajah itu tertutup sebagian rambut, namun aku masih sangat mengenali. Wanita itu membungkuk dan tangannya membelai Akar dengan lembut lalu membisikkan sesuatu ditelinga lelaki kecil yang baru aku kenal. Lelaki kecil itu membuka tangannya dan membiarkan air mata yang mengalir tampak di wajahnya. Tanpa ada kata lagi, dia turun dari tempat duduknya, mendekatiku dan meraih tanganku, mencium tangan kananku dan berbisik

”Akar dan Mama mencintai Ayah”

Aku masih tertegun ketika tubuh mungil itu berbalik dan menggandeng tangan wanita cantik itu lalu pergi menjauhiku.

”Senja,..” Aku memanggil dengan suara serakku.

Ibu dan anak itu terus melangkah, seolah tak pernah terjadi apapun sebelumya, sama seperti yang kulakukan sepuluh tahun lalu pada Senja. Samar aku melihat Akar menoleh ke arahku, dia tersenyum, aku tersadar senyum itu sama dengan senyumku.

Semarang, 16 Mei 2010, 01.00 WIB

Jumat, 22 Oktober 2010

hitam, putih, bukan abu - abu

bilang hitam kalau hitam
bilang putih kalau putih

aku tak suka kau bilang abu - abu
seolah kau ingin bermanja zona aman
seolah warna yang kau pilih bukan milikmu

hanya hitam
hanya putih

atau silahkan meninggalkan ruang ini,..

semarang, 21 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

Akhirnya Oktober,..

Akhirnya,...

Aku melewati 12 Oktober ini,.

mengenang pilu,..
membuang ratap,..

Aku melewati 12 Oktober ini,..

Akhirnya,....

Semarang, 13 Oktober 2010, 17:45 WIB

Rabu, 06 Oktober 2010

Oktober Lagi,...

membatu,...
membeku,...
membiru,..

hitam,..
legam,..
kelam,..

dendam tersimpan rapi
pedih setia temani
marah bertahta bergeming

tangis,..
jerit,..
sesal,..

aku tak akan lagi membencimu Oktober
aku janji,....

Oktober 2

sekarang,...
detik ini,..

aku menjadi penakut, tanpa alasan, seperti takut pada naga yang sama sekali tak pernah ada

aku menjadi bodoh, seolah otakku kompak berhenti berfikir dan memutuskan untuk tenggelam di lautan lepas yang entah seberapa dalam

aku menjadi dingin, seolah Oktober di Indonesia bersalju dan membeku,...

sekarang hatiku mengeras, bagai gunung batu yang angguh dan terjal,..

sungguh, aku menjadi sosok yang tidak aku kenal, hati yang tak pernah ku miliki,.

sekarang,..
detik ini,..

aku ingin melewati Oktober,..

aaah,... aku memenangkan cerita itu,...
sekali lagi maafkan aku Oktober,...

Semarang, 6 Oktober 2010

Oktober

waduh,... Kok sekarang bulan Oktober????

Sebagai makhluk yang kata psikolog tergolong dalam manusia melankolis, aku merasa beku jika menyebut kata "OKTOBER". Banyak bulan dalam setahun, tapi entah mengapa, semua peristiwa buruk berlomba - lomba menghias Oktober ku.

sebenarnya tidak ada yang salah dengan Oktober, karena aku masih membutuhkan Oktober di bulan September untuk bertemu dengan bulan November. Tapi peristiwa - peristiwa konyol yang mengganggu dan sialnya membekas itu hadir di bulan Oktober,..

uff,.. maafkan aku Oktober,...

Edyt's room, 5 Oktober 2010, 15:39

Senin, 04 Oktober 2010

SMS di Tengah Meeting Penting

Tiba – tiba sebuah pesan singkat masuk, di tengah meeting yang membutuhkan konsentrasi puncak, masuk begitu saja. Aku terdiam, termenung, tercengang,.

Secepat kilat aku membalas pesan singkatnya “ Sebentar, aku lagi meeting” dan terkirim,. Semudah itu.

Jeda meeting menggodaku untuk membuka lagi SMS darinya, singkat saja “Aku ada dikotamu bersama keluargaku, orang tuaku akan melamarmu,.” Dan aku memilih opsi delete untuk menjawab godanya.

Datar, tak ada riuh di dada, biasa saja,… Setelah tanpa kata selama tiga tahun, kurasa SMS nya tak lagi berarti,…

Sore, tengah meeting di Wedding Gallery, 4 Oktober 2010

Rabu, 08 September 2010

Berharap Impas

Aku tak lagi memintamu untuk mengerti, karena sampai kapanpun kau tak akan pernah mengerti.
Jangan paksa aku untuk memahami, karena sampai kapanpun aku tak pernah bisa memahami.
Kau tak akan pernah memahami dan aku tak pernah mengerti.

Luka itu tak bisa ku jelaskan lewat kata, nada ataupun lukisan. Luka itu hanya menjadi rasa yang aku tahu, bukan kamu,..

Biar, seperti ini saja,.

Aku tak mampu memaksamu untuk berpura - pura merasakan, tapi izinkan aku menikmati luka ini,...

semarang, 8 September 2010 - hari ini ulang tahun siapa ya,...-