Kamis, 09 Oktober 2014

lelah

dan,..

selalu dalam keadaan ini aku mengeluh
sebuah bathin yang tak lagi bisa memahami

lelah

semarang, 9 Oktober 2011

Selasa, 12 Agustus 2014

IKHLASKAN

Ya saya tahu

Saya bukan lagi sosok seperti dulu
Kenyataan telah merubah saya
Apakah yang masih tersisa?
Saya tak berani berharap

Sudah,..

Saya memang telah berubah
Saya bukan lagi hati yang kau kenal
Kepiluan telah menyayat saya sedemikian hebat
Tanpa pernah ada ruang tersisa

Bukankah semua menjadi pilihan
Tanpa pernah bisa sebuah kata terdengar
Jangan pernah disesali
Sesal tak pernah mengembalikan

Maafkan

Tak pernah ada yang tersisa
Semua pudar
Hancur
Tak lagi ada

Ikhlaskan saya,..
Ikhlaskan,...

semarang 12 Agustus 2014

Rabu, 16 Juli 2014

welcome home dear,...

aku tahu saat ini akan datang
aku bersyukur saat ini telah datang

ketika do'a panjang menemani malam - malam
mengharap hadirmu nyata dalam realita
kenyataan berhadapan dengan impian
akankah terwujud khayal

ku yakinkan kau tersesat
dan aku tak mampu membantumu pulang
cintaku mengisyaratkan

inilah rumah yang seharusnya selalu kau pulang
tetap menunggumu meski larut tiba

selamat datang kembali kekasih
tempatmu disini
dirumah kita

semarang, 16 Juli 2014

Minggu, 18 Agustus 2013

PENANTIAN



Sebentuk mata nanar menatap tajam. Tak kutemukan seberkas cinta di dalamnya. Aku menikmati gelegar suara yang menjadikan aku merapuh. Tanpa pernah sempat aku mengatakan. Sebuah tamparan menghantarkanku pada gelap. Tanpa pernah aku membuat dia memahami penantianku kepadanya.

Semarang, 18 Agustus 2013 00:37 WIB

Senin, 22 Juli 2013

AKU JATUH CINTA



Aku melihatmu dalam mimpi.
Tak sekalipun kau nyata dalam hidupku.
Selaksa angan aku merindumu.
Seperti angin seusai badai.

Hanya itu,.
Aku jatuh cinta padamu.
Dalam mimpi.
Kau tak pernah nyata.


Semarang, 22 Juli 2013

Minggu, 21 Juli 2013

s e l a l u



Selalu aku selalu menantimu di sini. Diam – diam tanpa seorangpun yang tahu, begitupun hatiku. Aku menyimpan rapat – rapat penantian ini. Aku tak pernah mampu mengatakan. Meski kau nyata di depanku.

Selalu bibirku kelu. Hanya sekedar menanyakan kabarmu. Aku tak pernah mengerti semua rasa ini. Seperti bunga yang mekar dan wangi. Atau warna pelangi yang indah di hamparan biru. Aku hanya menginginkan sebentuk lengkung yang kuyakini milikku. Senyummu. Hanya itu.

Selalu saja begini. Kau hadir dalam mimpiku. Begitupun senyummu. Terasa nyata dan bahagia. Seusai ku buka mata. Tetap kenangan tentangmu terbayang. Aku memilikimu dalam mimpi. Tak mengapa.

Selalu aku tak mampu mengurai rasa. Meski kau ada tepat di depanku. Menyentuhku. Memelukku. Tak pernah kau tahu rasaku.

Selalu seperti itu,....

Semarang, 21 Juli 2013

Jumat, 03 Mei 2013

bintang jatuh

Perjalanan ini panjang. Meminta segenap pengertian dan harapan. Aku tak pernah bisa mengingat awal cerita ini. Tiba – tiba saja dalam lelah langkahku, aku menyadari kau ada di sampingku, dan semua menjadi kita,....

Aku bermimpi lagi semalam, tentangmu dan kegelisahan itu. Ini sudah kesekian kalinya, dan kau tetap saja menganggap bunga tidur. Hanya bunga, yang sebentar lagi layu. Sesederhana itu bagimu. Tapi tak pernah menjadi sederhana buatku. Semakin jelas dan tak pernah bisa kau elak lagi. Mimpiku, ceritamu, kenyataan,...

Matahari hampir mencium air laut ketika aku berbaring disini. Menunggumu dengan sisa keyakinan. Dan menyentuhkan rasa gelisah pada kegelapan tiba – tiba pantai ini. Kuning, jingga dan abu – abu lalu menyuguhkan biru gelap yang tak mungkin ku tawar. Aku mengirim pesan itu padamu. Dalam semua media. Dan Tuhan lah penyampai pesan itu. Aku menajamkan kalbuku, mengirim isyarat yang hanya dipahami Tuhan. Aku hanya perlu sebentar lagi menantimu.

Aku merapikan kotak kerinduan yang terbungkus kain hitam berpita ungu. Apakah kelak akan kuberikan padamu dengan suka cita, ataukah ku hempas di depanmu dan menikmati pilu disana. Aku mengingat semua perjalanan ini. Perjalanan panjang yang melelahkan. Bukan aku yang memintamu untuk bersamaku. Tapi cerita masa lalu. Sebuah kisah masa lalu. Kau dan aku. Kita,...

Kini kau telah duduk di depanku. Terdiam diatas hamparan pasir lembut. Tak perlu sinar apapun untuk menatap wajahmu. Tak perlu apapun untuk mengenalimu. Aku hanya perlu untuk berbicara denganmu. Tentang mimpiku yang menjadi nyata, tentang ceritamu yang tak lagi utuh, tentang semua gelap yang kau ciptakan. Aku hanya perlu berbicara padamu. Sekali ini. Dan tak akan pernah lagi. Saat ini akulah penulis skenario dan sutradara sketsa ini, tak ada yang perlu kau katakan, kau hanya perlu mendengar dan semoga kau memiliki rasa untuk memahami. Sedikit saja, aku tak akan memintamu lebih dari itu. Aku janji...

Kau ada di sini, menerima pesanku. Kau harus mengikuti aturan mainku. Tak ada penawaran. Aku penguasa sore ini, dan kau hambaku. Ikuti saja mauku. Kau tak memiliki hak apapun atas sore ini. Siapkan dirimu, kekasih,.. setelah cerita ini berakhir, kita akan tersenyum bersama.

Pertama, aku minta kau memelukku, semoga aku masih merasakan pelukmu yang pernah menjadi miliku. Kau tersenyum. Senyum terindah yang selalu kugilai. Aku mampu melukiskan senyum itu dengan mata tertutup. Aku telah mematri senyummu dalam benakku sejak dua puluh tahun yang lalu. Saat hatiku belum mampu mencerna rasa aneh yang diam – diam menyelinap ketika melihatmu. Ketika telapak tanganku sangat basah menjabat tanganmu dan lirih suaraku menyebut namaku. Aku merasakan getaran itu semakin menguat ketika kau tersenyum. Apakah kau memahami gundah dalam angan ketika senyummu menjadi mimpi kaum hawa selain aku?. Aku menyimpan semua cerita indah dalam ruang bathinku dan menjaganya dengan pipi merona. Aku mencintaimu sejak hari itu. Sejak kau tersenyum dan menganggukkan kepala kepadaku. Aku mencintaimu sebelum aku mengetahui namamu. Aku mencintaimu sesaat setelah aku tak mampu menenangkan gejolak itu. Aku mencintaimu dalam diam. Sunyi. Kau tak mengerti. Lalu kau pernah datang sekelebat. Seperti hujan yang turun di bulan April, sejenak saja. Selaksa kawan lama yang tak begitu akrab, Kau tak banyak berbicara padaku. Namun kau tersenyum padaku. Senyum yang sama dengan yang ada di kotak kalbuku. Aku jatuh cinta lagi. Denganmu,..

Aku menanti keajaiban. Keajaiban yang menuntunmu menemuiku. Kejaiban yang memberiku kekuatan untuk mengatakan padamu. Kau, pemilik senyum terindah, aku jatuh cinta padamu. Meski kejaiban itu tak muncul dalam hitungan masa. Aku menanti,..

Aku telah melupakan penantian kejaiban itu. Hingga suatu malam aku melihat bintang jatuh. Inilah pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Segera Aku berlutut, mataku terpejam dan hatiku berdoa. Aku menginginkanmu. Aku tahu, aku menginginkamu dalam hidupku. Do’a spontan yang kulakukan. Lewat bintang jatuh, aku meminta lagi keajaiban.

Bintang jatuh memenuhi janjinya. Keajaiban itu datang padaku. Setelah dua puluh tahun. Ketika hampir semua cerita kujalani. Kau datang mempersembahkan senyum yang rindukan. Masih sama dengan gambaran masa laluku. Tak kuhiraukan debaran aneh di dadaku. Aku berteman dengan logika dan hukum kesempatan. Kau telah datang padaku. Sama persis dengan permintaanku berpuluh tahun yang lalu. Aku tak lagi bisa mengenali rasa ini, gemuruh aneh yang menghentak dadaku. Aku hanya tahu kau ada didepanku. Menyerahkan dirimu untuk kumiliki. Kau jatuh cinta padaku saat kau tersenyum dan mengangguk padaku. Kau jatuh cinta padaku sebelum kau mengetahui namaku. Kita jatuh cinta disaat yang bersamaan. Aku bahagia. Saat itu ternyata milik kita, tanpa pernah kita sadari.

Aku jatuh cinta padamu. Sekali, dua kali, tiga kali, kesekian kali. Aku menikmati rasa itu. Aku menikmati sensasi kegelisahan dan kelegaan yang muncul ketika pesanku tak cepat terjawab. Aku menikmati berjuta pesona yang kau berikan tanpa ku minta. Aku menikmati hari – hari bersamamu. Aku menikmati cinta yang seharusnya kunikmati berpuluh tahun yang lalu. Bingkisan cintamu memabukkanku. Aku terlalu banyak menenggak anggur kebahagiaan ini, sehingga aku tak menyadari ketika kau berpendar dan menghilang. Aku butuh waktu untuk tersadar dari kenyataan ini. Inilah yang tak pernah aku sukai, Kau menghilang dalam ketidaktahuanku. Aku terpuruk, aku tak punya pilihan.

Aku mencarimu, di setiap sudut bumi yang pernah kau lalui. Mendengar samar suaramu kemudian menggilang begitu saja. Mengenali bayangmu lalu menjadi asap. Kau menghilang, tanpa aku mengerti. Aku lelah, perjalanan panjang ini melelahkan. Masih harus berapa lama lagi aku menjalani. Kau tak pernah mengerti, saat kerinduan ini menghentak dentum dalam dada. Aku menyusuri hampa. mencarimu,..

Bertahun aku bertahan pada gelap ini. Isyarat dalam mimpiku, yang tak pernah kau anggap ada. Ataukah kau merasa Tuhan telah menunjukkan cahaya atas kelirumu? Kau tak pernah bisa menjawabnya. Meski aku telah bertanya lewat seribu bahasa. Mengapa tak pernah ada kata setelah sekian lama kita berada dalam dilema? Butuh berpuluh tahun lagikah untuk menemukan hari yang seharusnya menjadi milik kita? Aku menuliskan beribu pertanyaan pada pasir, dan menghilang sebelum sempat kau membacanya.

Aku menatapmu, wajah terkasih pucat pasi. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu sayang. Meski pahit dan luka kembali kurasa karenamu. Aku tak menyangka ketika seribu nyeri ini kurasa akibat sayatanmu. Berteman bintang dan gelap, aku terus mencari jawab atas seribu gelisah yang menuju ke arahmu. Menganalisa lewat angin dan dingin. Aku mencoba menata puing – puing harapan yang kau tinggalkan, tanpa tangis, tanpa air mata.

Aku tersadar, aku berada dalam ruang besar yang gelap, tak ku temukan pintu dan jendela atau lubang untuk sedikit sinar masuk ke dalamnya. Namun aku bisa melihat isi ruangan meski samar. Aku melihatmu dalam bayang – bayang, namun cukup jelas untuk ku mengerti isyarat cintamu. Aku memahami, ketika ruangan yang ku sangka itu adalah kotak nostalgia. Dan aku tak punya pilihan untuk keluar dari kotak ini. Aku berada dalam dilema yang sungguh indah. Saat itu kau menyatakan sanggup berada di sini bersamaku. Cukuplah aku dan kau ada dikotak ini. Kita tak perlu orang lain. Tak perlu ada sinar, karena mataku telah bersinar menemukanmu. Cukup. Jika memang ada kejaiban sekali lagi, aku ingin berada disini selamanya bersamamu. Tak perlu ada pilihan untuk keluar dari gulita ini. ada di dunia ini tanpamu. Aku telah melewatkan banyak hati untuk terpaku samar disini. Namun aku lupa menanyakan perasaanmu. Atau aku tak mampu melihat kejujuran hatimu. Aku minta maaf untuk itu.

Dan tiba – tiba saja aku sinar matamu meredup dan padam begitu cepat tanpa pernah ku tahu sebabnya. Kau tak pernah bercerita, aku tak pernah bertanya. aku terlalu percaya dengan cerita yang kau hiasi mimpi. Sungguh, bukan ini arahnya. Kau menghilang, meninggalkanku dalam gelap. Tanpa pernah bisa kutahu darimana sinar akan menerangiku.

Apakah kau pernah mencoba memahami perasaanku? Selaksa terombang ambing ombak. Kau memberiku harapan, kau meyakinkanku akan harapan, kau menata semua harapan, lalu secepat itu kau melupakan harapan. Apa yang harus ku lakukan? Aku tak mampu berjalan dalam pedih ini. Apakah kau pernah merasakan kesakitan yang menusuk hingga tulang, membuatmu tak mampu bangkit? Inilah aku sekarang. Terluka dan terbuang. Karenamu..

Entah,.. tiba – tiba saja aku merasa tak yakin dengan kisah ini. Selalu saja aku yang harus menegakkan puing rapuh yang kau beri. Mengapa aku tak pernah layak mendapat kesungguhanmu? Aku telah memberimu banyak waktu dan kesempatan untuk mengunci hatiku. Dan saat ini tak perlu satu kata pun kau ucapkan. Tak ada yang bisa kau jelaskan. Tak ada gunanya untuk ku ketahui. Tak perlu lah kau buat aku mengerti. Sekarang, pergilah kekasihku....

Aku benar – benar merasa hampa, ketika bayangmu memudar di depanku, menghilang,... Tak akan pernah ada lagi kita, aku dan kamu,....

Semarang, 23 Maret – 4 April 2013
Buat Fie

Minggu, 10 Maret 2013

Cita – Citaku Jadi Bintang Film

Berbicara tentang cita – cita, sampai sekarang aku tak bisa memahami diriku sendiri saat masih kecil. Saat anak TK mulai diberi pertanyaan standar tentang cita – cita, aku dengan mantap menyebutkan cita – citaku menjadi bintang film. Alasannya sederhana saja, aku ingin bertemu Rano Karno, bintang film yang filmnya banyak ku tonton dengan sembunyi – sembunyi, alasan lainnya adalah aku ingin bisa ke luar negeri karena banyak film saat itu dikisahkan tokohnya sekolah di luar negeri dan pulang menjadi orang yang sukses. Cita – cita sederhanaku itu tak ayal membuat mamaku terhenyak, dengan kesabaran yang diluar logika manusia, mamaku menyarankan cita – cita lainnya. Mama memberi alternatif cita – cita yang “umum”, seperti menjadi polwan, dokter, insinyur atau pegawai negeri. Saat itu aku memilih menjadi polwan saja, meski hati kecilku tetap ingin menuliskan “bintang film” sebagai cita – citaku.

Apa yang salah dengan cita – cita menjadi bintang film? Aku kecil mulai memikirkan hal itu, bukankah cita – cita adalah keinginan menjadi sesuatu saat aku dewasa nanti. Toh apapun cita – citanya, syarat utama adalah belajar yang rajin, itu yang aku ingat dari kesimpulan pelajaran cita – cita yang diberikan Bu Wahyu, guru TK ku. Lagipula ada beberapa temanku yang menyebutkan cita – cita anehnya, menjadi pengantin. Meski menjadi pengantin terdengar lebih masuk akal daripada menjadi bintang film, saat itu tak ada pilihan lain selain mengakui POLWAN sebagai cita – citaku. Walau demikian dari lubuk hatiku yang terdalam, aku memiliki cadangan cita – cita, seandainya saja bintang film tidak termasuk cita – cita, aku ingin sekali menjadi,.. Pembaca puisi.

Beranjak lebih besar, masuk SD, cita – citaku mulai lebih realistis, meski tak juga mengambil salah satu cita – cita “umum” yang beredar. Aku pernah bercita – cita menjadi penari tradisional Indonesia, hal ini dikarenakan banyak majalah yang kubaca mengupas kisah sukses seniman yang melanglang buana dengan tariannya. Tarian indah ini membuat kagum orang luar Indonesia. Bayangkan saja, aku dikagumi oleh orang yang bahasanya saja tak ku mengerti. Bisa keliling dunia, dan siapa tahu, bisa bertemu dengan Rano Karno disana,...

Sadar penari juga bukan cita – cita yang membuat mamaku senang, aku mulai mencari cita – cita baru. Aku sempat bercita – cita jadi guru, tapi segera ku urungkan niat mulia itu. Aku tak mampu menghafal rumus yang memusingkan. Lalu aku juga bercita – cita menjadi arsitek. Sadar akan kemampuan menggambar yang nol besar aku mengubah cita – citaku menjadi Ahli Bahasa, tanpa aku tahu apa sebenarnya profesi itu. Alasannya sederhana saja, aku suka membaca buku dan merasa nyaman dengan pelajaran Bahasa Indonesia, karena ada kegiatan mengarang dan membaca puisi. Itu saja.

Akhirnya aku memiliki cita – cita yang menenangkan mamaku. Mungkin mama masih bingung juga, Ahli Bahasa kerjanya dimana? Atau mungkin juga mama berharap aku bisa menjadi penerjemah untuk diplomat? Sementara itu sajalah,.... 

Selama SMP aku mulai memantapkan diri untuk menjadi ahli bahasa. Aku bertekad untuk menguasai tidak hanya Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Aku mulai belajar mencintai Bahasa Inggris dan bertekad menaklukan Bahasa Melayu. Dengan sahabatku yang bercita – cita menjadi ahli nuklir, aku berkhayal bisa keliling dunia dengannya. Dia yang membuat nuklir dan aku yang menjadi penerjemahnya. Mimpi yang indah. Sampai sekarang aku tak bisa membayangkan jika sahabatku itu sukses menjadi ahli nuklir, pasti hidupnya tak akan setenang sekarang hahahahahaha.

Beranjak SMA cita – cita awalku muncul lagi. Namun bukan menjadi bintang film lagi tapi berkarya di bidang perfilman. Aku sangat ingin menjadi salah satu crew pembuatan sebuah film, penasaran dengan kegiatan produksi yang konon memakan waktu lebih dari seminggu penuh di lokasi shooting. Aku berasumsi, hal ini karena kesukaanku menonton film memang di luar batas remaja saat itu. Dan aku selalu penasaran dengan setiap adegan yang ada. Bagaimana cara membuat sebuah mobil meledak, apakah menggunakan mobil sungguhan, bagaimana jika ketika meledak ledakannya sampai kemana – mana?. Atau mengapa tokoh ini harus begini cara ngomongnya? Harusnya begini saja. Dan kegilaanku adalah, aku selalu berkhayal namaku ada di credit tittle sebuah produksi film, meski aku tahu, saat namaku mulai muncul di layar, penonton sudah beranjak dari tempat duduknya.

Lagi – lagi cita – citaku ini tak mendapat sambutan meriah dari mama papaku. Oke,... aku berganti cita – cita yang lebih membumi. Menjadi psikolog. Sudah, final aku ingin menjadi psikolog. Aku sabar kok mendengarkan keluh kesah seseorang yang mungkin saja kisahnya akan menginspirasiku menulis naskah film. Semoga saat itu terjadi orangtuaku sudah merasa bangga denganku. Tapi cita – citaku itu ku paksa kandas dengan suka cita, demi melihat anak buah papaku yang tak juga lulus dari kuliah psikologinya yang katanya susah banget. Yess,.. seperti menemukan air di padang pasir. Aku menemukan cita – cita lain. Menjadi advertisment maker. Mungkin bukan cita – cita, tapi keputusan dimana aku harus meneruskan kuliah setelah lulus SMA. Berbekal sedikit pengetahuanku dibidang periklanan yang aku dapat dari papaku, aku memilih AKINDO, sebuah akademi komunikasi yang memiliki jurusan Advertising. Disinilah aku merasa menemukan rumah yang selama ini aku cari.

Berada dilingkungan kampus yang juga memiliki jurusan broadcast ini membuatku terus memupuk impian masa kecil. Aku tak juga memiliki gambaran seperti apa, namun aku yakin bisa menjadi bintang film, meski bukan dalam arti yang sebenarnya.

Ketika cita – cita tak lagi hanya ungkapan keinginan, semoga aku telah membuktikan kepada orang tuaku bahwa keyakinanku tak sia – sia, dan menjadikan mereka bangga. Hampir sepuluh tahun aku berada di dunia yang lebih hebat dari cita – citaku yang hanya menjadi bintang film. Aku berkesempatan mempelajari bagaimana menjadikan seseorang bintang film, tak hanya itu, aku berkesempatan mewujudkan semua mimpi masa kecilku di dunia kerja. Aku pernah terlibat dalam pembuatan iklan TV, program TV, Mini Film, bertemu dengan komunitas pencinta puisi, berbincang dengan penulis buku yang ku kira hanya ada di dunia khayal dan menuliskan kisah khayalku yang kemudian menjadi inspirasi orang lain. Bonusnya, aku beberapa kali bertemu dengan artis yang wajahnya akrab di televisi atau bioskop. Meski aku belum juga bertemu dengan Rano Karno namun aku telah mewujudkan mimpiku. Aku telah menggapai cita – citaku. Dan mempercayai Tuhan mengabulkan setiap keinginanku tanpa terkecuali, dengan ragam dan waktu yang sangat pas. Aku menyadari hal itu,....

Ternyata, mimpi dan cita – citaku tak berhenti sampai disini. Aku menyadari, hidupku kini bukan berputar pada mimpi dan membanggakan orang tua. Aku telah memiliki suami yang berhak penuh atas konsekwensi pilihanku. Aku telah menemukan passion yang ku yakini sebagai kesimpulan dari seluruh cita - cita masa kecilku yang tidak umum. Dan aku sangat bersyukur pada Tuhan yang telah mengizinkan suamiku memahami mimpi dan cita – citaku. Semoga cita – citaku kali ini tak lagi tergabung dalam mimpi tak lazim. Aku seorang penulis.

Senin, 29 Oktober 2012

Next Project : MOVE ON

Tergopoh – gopoh satpam kantor mengantarkan smartphoneku yang tertinggal di meja kerja. Untung saja, apartemen kantor hanya beberapa meter dari kantorku.

“Aduh Neng,... henponnya bunyi mulu’,..kayaknya penting ini” Keluh pak satpam sembari menyerahkan blackberry hitamku.

10 misscall dan 7 sms. Belum sempat aku tahu siapa yang menghubungiku, suara Michael Bubble terdengar nyaring, serentetan nomor tak ku kenal muncul di layar HP.

“Hallo,...”

*************

Aku telah menunggu disini selama lima menit, namun sudah sepuluh tahun kurasa. Sosoknya tak juga hadir. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku ingin menghubungi serentetan nomor tak dikenal yang menghubungiku tadi. Satu, dua, tiga,.. ku urungkan. Ku SMS saja,.. kata pertama, kedua, ketiga,.. ku hapus lagi. Aku menghapus peluh yang mengalir lembut di keningku. Penantian ini belum juga berakhir,....

Sosoknya hadir tepat di menit ke tiga puluh delapan. Rasa kesal menguap begitu saja mendapati lelaki masih memiliki senyum manis yang selalu ku gilai. Setangkai mawar untukku menyimpan tanya baru yang ingin ku ungkap. Tapi tidak, aku masih cukup mengenali kebiasaan playboy ini.

“Mau cerita apa?” Tanyaku segera setelah seorang pelayan mengantarkan minuman pesanannya. Senyumnya mengembang dan aku tak sabar.

“Bisa cepat kan? Aku nggak punya banyak waktu”

Lelaki berkulit sawo matang itu masih saja tersenyum. Dalam hati aku berdoa semoga kali ini aku tak jatuh pusaran tak benama itu lagi.

Tik,.. tok,... tik,.. tok,.....

“Aku akan menikah,...”

Aku terperanjat, dan langsung memasang wajah tak kaget. Dia tersenyum.

“Awal bulan depan”

Dadaku berdegub kencang. Ini tak sesuai dengan setangkai mawar yang dia berikan. Tiba – tiba saja aku membenci senyumnya.

“Jadi hanya ini saja yang ingin kamu bicarakan?” suaraku terdengar sangat tidak ramah.

Mantan kekasihku menghisap rokok putihnya dalam – dalam. Aku berharap sebuah keputusan untuk membatalkan pernikahan itu terbuat sesaat lagi. Demi cintaku padanya.

“Kamu ga nanya aku mau nikah sama siapa?”
“Emang penting?”
“Penting dong,.. “

Aku menghela nafas panjang. Buat apa aku tahu dengan siapa Niko akan menikah. Bayangan seorang wanita bertubuh langsing yang memakiku di depan kantor kembali diingatanku. Buat apa aku mengetahui namanya.

“Ibuku yang memilihkannya buatku, aku masih mencintaimu”

Semua seolah terdiam. Hanya Niko yang berbicara. Aku tak berani berkata apapun, khawatir terdengar oleh perempuan ber make up tebal di ujung sana. Gelisah menghampiri hatiku. Sebuah kenangan lama terulang, saat Niko hanya terdiam kala sang ibu memerintahkanku untuk menjauhi anaknya.

“Kamu tak percaya aku mencintaimu?”

Aku tersenyum, andai saat itu aku mendapati Niko mempertahankanku di depan ibunya, mungkin saat ini aku mempercayai ucapannya. Mungkin saja,...

“Aku ingin kamu,...”

Belum selesai kalimat Niko, aku sudah berdiri dan siap meninggalkannya.

**********

Malam ini aku menyesali sebuah kalimat yang terucap ketika hubunganku dengan Niko harus berakhir. Kalimat untuk tetap menjadi sahabat buatnya. Janji yang sepertinya mampu menyelamatkanku dari rasa kehilangan tiba – tiba. Aku tak mampu lagi membohongi diriku ketika semua tak baik – baik saja. Rasa sakit tak lagi terasa. Aku membuka agenda kerjaku. Menatap satu halaman kosong, menuliskan satu judul next project : MOVE ON. Semoga aku benar – benar bisa menjalani next projectku.


Kendari, 29 Oktober 2012.

Senin, 01 Oktober 2012

AKU CINTA KAMU HARI INI

“Aku cinta kamu, hari ini,..”
SMS sent,...

Beberapa detik kemudian,...

SMS received
” Hari ini saja?”

Aku tersenyum, pagi ini SMS pertamaku mendapat respon yang sangat cepat darinya. Aku tak mampu membuat janji yang lebih lama. Cukup hari ini saja dan besok aku akan mengatakannya lagi. Aku tak perlu berjanji untuk hari yang belum pasti aku miliki. Cukup hari ini dan aku tak perlu merasa bersalah jika esok aku mati.

“Aku cinta kamu hari ini”

Dia tersenyum, memelukku, aku menikmati cintaku hari ini.


Semarang, 1 Oktober 2012
*selamat ulang tahun, Suamiku,….


Jumat, 21 September 2012

DE JAVU

Aku duduk di sini, seperti sore yang telah ku lewati. Memandang gulungan ombak mendekat, lalu mengucapkan salam. Satu ombak genit mencoba mencium pipiku. Lalu berlari kecil menjauh dengan malu – malu. Awan berarak ke arah barat, membawa cerita pada kepulan asap hening melukis senja. Sebentar lagi rombongan burung kecil ramai melintas, aku suka sekali mendengar nyanyian mereka. Seolah menyampaikan ketenangan terbalut rindu. Sedang apa kau kekasihku?

Angin berhembus tak begitu kuat. Membisikkan pesanmu padaku. Tentang cinta yang tak tahu lagi harus kemana berlayar. Tiba – tiba saja cinta bagiku seperti kapal, berlayar menuju sebuah titik dan mendapatkan sesuatu disana. Menyeberangi lautan luas dan memerlukan banyak dukungan. Angin, ombak, burung camar, badai, matahari, bintang, bulan, hujan,.....

Ketika mencintai adalah mempersembahkan kebebasan. Inilah yang sedang aku lakukan kepadamu. Melihatmu tersenyum dan menikmati pijar bahagia dari wajahmu. Hanya itu. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Tepatnya, tak ada lagi yang mampu aku lakukan.

Tenanglah kau disana kekasihku. Diseberang lautan luas yang tak pernah sanggup aku layari. Bersama kenangan dan sisa harapan. Meski kelak kau berhenti untuk menitipkan pesan cintamu pada ombak dan aku berharap pada angin. Aku akan tetap disini. Duduk diantara ilalang yang telah tumbuh menemani. Memandangmu, jauh di seberang lautan.

Kelak, suatu saat, ketika aku tak lagi ada disini. Mungkin aku telah berhasil berlayar ke seberang lautan. Mencarimu, dan mempersembahkan seikat kembang yang kau impikan. Suatu saat. Semoga tak terlambat.


Semarang, 21 September 2012
Thx to wiwieb’s pic. Inspirated.

Kamis, 14 Juni 2012

Pelangi Senja Bing

Sore yang sejuk, seperti inilah taman bermain kami. Permadani rumput hijau tergelar luas, lembut dan mendamaikan. Wangi segar membelai hidung kami yang tak begitu mancung, lalu desir angin memberi lagu menenangkan jiwa. Tak ada yang kurang disini, warna warni bunga memanjakan mata, dan sinar surya menghangatkan raga. Suara seribu bocah menjadi nyanyian paling damai yang pernah ku dengar. Mereka bermain, melompat, tertawa lepas. Aku selalu di sini, duduk di bawah pohon beralaskan rumput, semilir angin bercerita tentang keindahan, lalu buku – buku menjadi kendaraanku melintasi masa. Aku disini, menikmati setiap detik keindahan, setiap kata manis yang terucap, menyegarkan rasa.

Dua bocah bermain mimpi di dekatku. Wajahnya nyaris sama, dengan pipi kemerahan dan bibir merah segar. Mata beningnya menyiratkan kedamaian abadi dalam bathinnya.
“Aku ingin mama yang cantik,…”
“Aku juga,….”
Aku tersenyum, mencuri dengar percakapan selanjutnya.



Mereka berbicara sambil berbaring menatap awan putih berpadu dengan biru muda.
“Mamaku punya rambut panjang dan berwarna hitam yang indah”
“Hm,… Mamaku tak perlu berambut panjang, tapi hatinya baik sekali”
“Mamaku adalah wanita yang lembut dan sayang padaku”
“Mamaku juga sayang padaku, beliau sangat tegar menghadapi hidup”
“Kapan kita bertemu mama kita?”
Lalu hening,….

Aku menunggu,….

“Apakah mama kita adalah orang yang sama?”
“Mungkin saja,…..”
“Seharusnya ya,… kita kan kembar”
“Mungkin kita memiliki mama yang berbeda lalu suatu saat kita akan bertemu lagi”
“Apakah mama kita saling mengenal”
“Semoga saja”

Aku tertegun,..

“Kau tak akan lupa padaku kan Naren?”
“Bagaimana aku bisa melupakanmu, Bing?“

Airmataku mulai menetes,…

“Aku merindukan mama,…”
“Apa mama merindukan kita?”

Alert SMS mengganggu suasana romantis ini,. Tuhan mengirimkan pesan singkatnya padaku.

“Bing, Naren,.. Mama kalian menanti kalian” ucapku lirih. Sontak dua tubuh mungil bangun dari tidurnya, menatapku dengan bola mata beningnya. Senyum mengembang, sejenak mereka saling bertatapan sebelum menghambur memelukku.

Aku mengantar mereka memasuki ruang khusus. Tuhan ingin bertemu mereka sebelum mereka bertemu mama mereka. Haru menyelimuti hatiku. Dua sosok mungil bergandengan dalam jalan riang.
“Mamaku lahir di bulan Juni,….” Celoteh Bing mengiringi langkah kami.

Aku tersenyum. Kalian akan sangat bahagia,…..

Semarang, 15 Juni 2012. Kado kecil buat yuneth,….

Rabu, 02 Mei 2012

sunyi

langkahku terhenti,..

sang surya berjingkat meninggalkan malam, dan embun bersiap menunaikan tugasnya.

aku menantimu di sini, dalam balutan kesepian

apakah kau mengerti?

Senin, 23 April 2012

Berteman dengan "Teman"

Mendapati diriku berada di usia tiga puluh tahun sekian ternyata sangat menyenangkan. Secara tampilan, aku nggak banyak berubah,.. . Oke, Ralat ! Secara tampilan aku agak banyak berubah, banyak kelebihan yang bersatu padu membentuk penampilanku yang aduhai sekarang ini. (untuk kelebihan yang aduh hai ini tak perlulah kita perjelas hehehehe). Menjadi lebih dewasa berjalan rukun dengan rutinitas yang terjadi atas nama pemenuhan kebutuhan sehari – hari. Tak jarang, bertemu seseorang baru sekarang ini , tidak lagi menjadi cerita menyenangkan untukku. Banyak intrik dan pengkhianatan di sana, lagi – lagi atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Susah rasanya mendapatkan partner yang sejalan seirama dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup.

Tak jarang serasa energy ku habis untuk sekedar mengetahui bahwa aku telah dicurangi rekan kerja hanya untuk jumlah uang yang seberapa. Namun rasa sakit hati dan “kecolongan” itu yang terus membuatku blingsatan untuk mengembalikan mood yang berubah total. Seiring waktu, dengan kehadiran facebook juga, aku banyak bertemu dengan teman lama, teman saat kita belum mengerti intrik bisnis yang kejam. Entah dalam kondisi bertemu dengan seseorang yang mengenalku jauh sebelum aku menjadi aku yang sekarang ini,aku merasa sangat nyaman. Ibarat main game, aka nada seseorang yang dengan suka cita mengirimkan energy saat energy ku melemah, dan game dapat berjalan lagi bersama mereka.
Moment Reunian SMA menjadi titik balik penemuan sumber baru energy ku . Betapa tidak, kurun waktu tiga belas tahun tidak bertemu tak membuat kami menjadi orang aneh yang harus berkenalan dengan menyebutkan nama masing – masing. Kekompakan terjadi bukan kerena kami menjadi panitia reunian, tapi lebih karena kami memiliki kenangan di masa yang sama, di tempat yang sama, kenakalan yang sama, tentunya dengan teman yang berbeda – beda namun masih juga saling kami kenal. Singkat cerita, menemukan kembali teman – teman lama, menjadi sumber energy terbaru yang pernah kumiliki dan ini menjadi sumber yang paling dahsyat.

Namun histeria bertemu teman – teman lama sedikit menemukan titik hitamnya. Tidak semua teman sih, hanya satu, dua dan mungkin tiga yang menjadikan ajang bertemu teman lama menjadi ajang yang tidak menyenangkan. Asumsi awalku adalah, dia punya masalah yang belum selesai di masa itu, atau tidak takut ketemu mantan pacarnya,.. hahahahaha,…
Melewati lebih dari satu decade telah merubah sebagian hidup kita, pada teman – teman kita, pada cara pandang mereka. Tak bisa dipungkiri, keras kehidupan yang kita jalani sekarang menjadikan banyak alas an mereka untuk tidak bersinggungan dengan teman lama yang “tidak menguntungkan”. Terasa kasar sekali ya ungkapannya. Tapi itu terjadi. Ada beberapa teman yang secara terang – terangan menolak undangan ngumpul bareng. Meski juga ada yang menolak dengan alasan klise yang menyembunyikan alasan aslinya.

“Si Ini sekarang kerja dimana? Jabatannya apa? Bisa bantuin aku dapetin proyek ga?”

Dan aku cuma terdiam, aku tak begitu tahu temen yang dia maksud itu kerja dimana, jabatannya apa dan bagaimana dia di sana. Yang aku tahu, dia masih seperti saat sekolah, saat sama – sama belum punya penghasilan, ketika sama – sama memiliki mimpi. Hanya itu yang aku butuhkan dari teman – teman. Bukan proyek yang akan membuat pundi – pundi tabunganku menggelembung. Aku hanya butuh mereka, untuk membawaku tetap berpijak pada bumi, untuk tetap percaya bahwa orang baik itu ada, untuk meyakinkanku bahwa pertemanan akan selamanya. Teman – teman yang tahu bagaimana kita sebelum kita terjebak pada kehidupan materi, adalah sumber untuk mengembalikan semangat mewujudkan mimpi. Selamanya,…


Semarang, 23 April 2012

Senin, 16 Januari 2012

kisah MeJiKuHiBiNiU

seringkali aku merasa hidup ini tak beda dengan mejikuhibiniu,...


ada cinta yang datang tiba - tiba. lengkap dengan hembusan angin yang menyejukkan dan kilau harapan yang tiba - tiba menjadi emas,.. entah, semua tampak sempurna dalam titik yang tak pernah tersentuh. gambaran cinta dalam warna merah, meski tak sesempurna itu, mungkin lebih lembut. memaksa hati untuk bersatu dengan ego dan keangkuhan, memuja bagai mimpi di sejuk suasana.

suasana menjalin keheningan lalu muncul sinar jingga yang selalu sulit terlukiskan. lewat tatap sang surya. menitipkan keraguan akan keyakinan bathin. benarkah jalan ini yang harus ditempuh, ataukah bebatuan ini yang harus melukai? mengharapkan cerita sesaat.

sesaat samar, semburat beralih makna menyebarkan panas. kuning di setiap sudut. menyalahkan kerinduan yang tak juga menemukan singgasananya. semua begitu cepat berubah, hingga saat matahari tak pernah bisa menyentuh hati yang tersakiti. mencoba untuk tak menyalahkan ruang dan wakrtu. meski kembali terantuk sepi.

sepi ini sesejuk hijau, mendadak terdampar dalam permadani raksasa. nafas tak lagi tersengal. haru tak perlu lagi meratap. sejuk ini abadi. dalam kilatan masa pennatian panjang. simpan bulir - bulir resah menanti. sejenak, semua segar dalam khayal.

khayal yang menghantar dalam ketidakpastian. semula awan tak akan berubah bentuk. bersanding manis dengan hamparan biru di atas sana. meracau dalam kelegaan yang mungkin akan menghilangkan kepiluan masa. dalam bentuk yang mungkin menjadi semacam fatamorgana. dalam lelah malam.

malam menitipkan sebuah misteri menyayat hati. ketika sang waktu tak lagi menyapa dalam mimpi. bukan kenyataan yang harus ada, tapi sisa asa yang mulai sirna. bukan malam yang menunggu pagi. menyamarkan warna nila. butiran keheningan terasa dalam damai. menyamankan kalbu.

kalbu menahan segenap makna akan hidup. tetap saja menjadi misteri. sedikit merah, sedikit biru, tak jarang menjadi hijau, atau merentas kuning bermetamorfosa menjadi jingga dan menambahkan nila. ketenangan mulai menghampiri, terdiam dan menyuguhkan keceriaan abadi. meski pahit dan tak pernah kembali.

semarang, 16 Januari 2012. 23.50 WIB

Jumat, 09 Desember 2011

c a m e l i a

prolog


Aku mengenalnya sebagai wanita lembut yang terlalu lama dan lelah menanti cinta. Bagiku, wajah cantiknya melambangkan kesempurnaan akan kesabaran yang terbalut kepercayaan mutlak. Tutur kata santun menghiasi nada indah yang tercipta lewat tulus do’a, dan mengurai kisah tak begitu indah. Meski tak sempurna, namun dia tetap sosok malaikat ungu dalam malam syahdu. Dia membebaskan hatinya untuk terbang bagai burung camar, sesekali menyambangi laut dan tergores akan karang. Dia berusaha menata selalu puing hati yang rapuh. Dia, wanita tegar yang diam – diam menangis dalam malamnya dan merindukan esok ceria


Aku mengenali senyum lembutnya dan sapanya yang terlantun khas tanpa cela. Bukan bermaksud menjadi tuan serba tahu, tapi aku merasakan beban berat dalam mimpinya. Tersenyum meski bulir bening perlahan turun melewati pipinya. Getar tak berjudul membekap seluruh kesempurnaan kerapuhan. Sekali lagi, aku yakin, airmata itu kembali menetes.


# 1
Kami bertemu di sebuah taman yang indah, dia sudah menantiku dalam hamparan rumput hijau nan indah. Senyum mengembang merona menyambut kehadiranku. Dia selalu cantik dalam warna apapun. Dan aku tahu, kali ini, dia sedang jatuh cinta.


Aku menikmati binar matanya, berpendar – pendar bercerita tentang kisah, secuil harapan yang membuncah dari puing kekecewaan. Aku ingin meraihnya dan mengatakan tentang kekhawatiran, tapi aku tak mampu mengungkapkan rasa dalam kegembiraannya.


Dia bercerita tentang seorang pangeran tampan yang mencintainya, lewat puitis nada yang mengalun melewati sungai jernih, mengikuti arus air berlari. Pangeran yang meyakinkannya akan mimpi indah tentang kedamaian atas nama cinta. Seorang pangeran yang mengulurkan tangan menghangat bathin. Kini dia yakin akan kenyataan yang indah, yang mampu melukiskan alam dan kuasanya dalam kesempurnaan warna. Pangeran datang menyibakkan hati yang kering dan menjentikkan jari, hatinya bersemi lagi


“Aku bergetar menerima karunia ini, inilah isi hidup yang selama ini aku nanti”


Aku tersenyum menyimak kalimatnya. Serasa nelangsa yang selama ini mendera bathinnya lenyap begitu saja. Meski perih yang tertancap tak mampu mulus menjelma tawa. Dia tersenyum, hanya tersenyum tanpa membagi cerita lewat bibirnya. Dan aku menjadi semakin peka dengan detak jantungnya, mendengarkan setiap makna arti sang pangeran dalam kegembiraannya. Aku berbahagia untuknya, namun keresahan itu menderaku. Seperti menyaksikan dia berjalan riang menuju jurang, melewati taman bunga yang indah, bersama kupu – kupu warna warni. Aku tak mampu mengusik bahagianya, namun aku tak mampu mengusik rasaku kepadanya.


Kami berbaring di bawah pohon rindang menyejukkan, menatap langit biru dan bermain dengan awan. Dia sangat cantik hari ini, menuangkan warna jingga menjadi ceria. Kami terlalu sering melakukan ini. Berbaring diam dalam masa, menanti awan menerjemahkan setiap kata dan rasa. Bukan aku tak ingin bersamanya hari ini. Namun aku tak ingin pemilik wajah tulus ini terjatuh lagi.


# 2
Hari ini genap tiga ratus hari aku tak bertemu dengannya. Hanya pesan bahagia yang selalu menyapaku dalam semua media. Dan cerita sang pangeran yang berubah masa menjadi ksatria perkasa yang menempuh jalan berliku untuk menyempurnakan cinta. Tiga ratus hari tak mampu mengusik rasa ini, saat ketidaksempurnaan menjadi penghalang akan perayaan cinta, aku mendesah diam – diam, dalam kelam, menitipkan do’a pada langkahnya.


Hari ini aku mengenang kisah kami, bukan kisah cinta bak puisi romeo & Juliet. Namun kisah pertautan rasa damai dan percaya. Semua indah bersamanya dan cerita nyata bermula. Kerinduan yang selalu dia ajarkan menuntunku ke sana, sebuah tempat damai yang selalu menjadi rangkaian cerita indah. Menyesapi damai embun yang menatap kami penuh canda. Aku ingin menyampaikan pesan tentang sang pangeran, entah lewat burung atau semilir angin, tentang sang pangeran yang memiliki banyak permaisuri selain dia, tentang sang pangeran yag tak sesempurna mimpinya. Aku ingin membawanya pergi, menyelamatkannya dari tawanan sang naga dalam kastil tinggi yang menakutkan.


Aku terus berlari mengejarnya. Mencoba berbicara tentang kemuraman yang ku ketahui. Namun tiap kali mengingat bening bola mata yang memancarkan harap, aku mengutuk keberanianku akan menghancurkan cerita bahagianya. Aku menyesal tak pernah mengatakan hal ini, namun aku selalu menitipkan bulir asa lewat pelangi yang muncul di sore hari. Aku berharap sang naga berbaik hati mengantarkan dia ke taman ini suatu saat, ketika sang pangeran pergi jauh, atau saat sang pangeran menyakitinya.


Dia mengirimkan pesan searah kepadaku, lewat merpati putih berwajah duka. Surat penuh cerita indah akan pangeran dan sang puteri. Mungkin hanya rasaku yang tak rela menyaksikan wanita berhati mulia mendapatkan cintanya dengan cara ini. Kembali aku mengutuk rasaku yang juga mampu sempurna dalam misi mendendangkan cinta. Kenyataannya aku berbicara kepada awan, dalam baringku sendiri di bawah pohon rindang. Dan awan menertawakan rasaku, berubah bentuk menjadi tangan yang menahan langkahku


“Tak perlu kau berlari, mengejar mimpi yang tak pasti, hari ini juga mimpi, biarkan saja dia datang di hatimu”


Keindahan itu sempurna, aku yang menjadikannya tak sempurna. Aku mohon maaf untuk itu.


# 3
Hari – hari ku lalui dengan keyakinan dia telah bahagia. Tinggal aku saja yang berusaha menyakinkan diriku akan ketidakbenaran kemuraman itu. Semua berjalan sebagaimana embun muncul di pagi hari, menebarkan sejuk yang tak pernah mampu dilukiskan dalam warna dan dimensi apapun, lalu menyambut mentari yang menawarkan hangat melenakan pagi dan member warna terang dalam langkah menanti sang sore hadir dalam redup yang selalu mengingatkanku padanya, semilir angin yang lalu menyertakan senyumnya, lalu petang akan menghantarkanku pada kenyataan aku tetap sendiri dan menyimpan pesan yang tak pernah aku sampaikan, dan kusesali dalam malam panjang yang terus menghadirkan wajahnya. Pada masa ini aku akan menangis dan meratap, tentang pesan tersirat yang dia kirimkan berates kali, aku tak pernah bisa menyelamatkannya dalam kurungan menara tinggi sang pangeran yang di jaga naga jahat.


Aku bergetar melihatnya. Duduk di bawah pohon rindang dalam diam. Aku tahu dia menungguku, menghadiahiku seulas senyum dan binar mata indah. Dia bercerita tentang cintanya pada sang pangeran, tentang ekspresi cinta yang tak pernah mendapat respon positif, tentang cinta yang nyatanya tak pernah mendapat tempat selayaknya. Aku meracau, aku mengetahui kemuraman ini, namun tak pernah mampu menerjemahkannya dalam bahasa apapun. Dia menangis, memelukku dan memohon maaf. Dia menerima semua pesanku, lewat angin, lewat kicau burung, lewat pelangi dan bahkan lewat awan yang menjadi musuhku. Namun dia menerima itu sebagai bentuk cinta, meski terkoyak, meski terluka, meski tak pada tempatnya.


Dia menunjukkan sebuah batu di dekat sungai, tempat kami biasa bercerita, dia menuliskan namanya dan nama sang pangeran, dia berpesan kepadaku untuk menjaga batu itu dan menunjukkan pada sang pangeran suatu waktu. Bathinku menggeleng, namun kepalaku mengangguk, bagaimana mungkin seorang yang telah melukai hatimu begitu dalam mendapat ukiran nama di batu yang tak mungkin akan terhapus. Aku menganggap dia berlebihan, meninggalkan logika dalam cinta yang tak terbalas nyata. Dia ingin tinggalkan kenangan dan kenangan.


Aku menantinya di sebuah batu besar dan memainkan gitarku, tentang lagu cinta yang menderu, dia datang dengan senyum ramah penuh cinta. Nafasku tercekat, aku merasakan cinta yang luar biasa darinya, untukku. Camelia memetik bunga ungu dan menyelipkan pada tali gitarku. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Mencoba mengisi bait – bait cinta dengan suara lemahnya. Entah apa yang ada di otakku, aku tak mampu melihat bunga itu. Sejuta rasa kecewa membuncah dan kemarahan pada sang pangeran membuatku mencabut bunga dan membuangnya. Dia tersentak, menatap dan memungut bunga itu, dia bersihkan bunga itu dengan air mata mulai menetes. Aku minta maaf, kekasihku,..


Namun kalimatku tercekat pada hitungan detik. Dia berlari sambil menangis, mendekap erat bunga itu, berlari tanpa bisa ku kejar, merasakan seluruh tubuhku membatu dan terpaku pada bumi dan menyaksikan pemilik hati yang putih itu pergi. Aku ingin bersamanya mendekap bunga itu, bunga yang terakhir. Memohon maaf atas salah dan khilafku.


# 4
Senja ini berwarna hitam, semilir angin tanpa cerita menyapaku dalam resah. Dia mengirimkan pesan untuk bertemu disini, bukan taman indah di pinggir sungai yang menjadi tempat pertemuan kami. Pesan yang kubaca dia menantiku di tengah ladang, aku pernah ke sini sekali bersamanya, bukan di senja yang menyiratkan senyap. Aku mencarinya, duduk dan tersenyum. Aku masih mencarinya.


Di ujung pematang, dia berdiri, memakai baju putih diantara ribuan kembang, langit di atas rambutnya berwarga merah tembaga, Dia memandangku dalam basah airmata di pipinya. Aku mendengar getar bibirnya memanggilku, menyampaikan kerinduan dan cinta yang mendalam kepadaku. Mengirimkan kedamaian dan keindahan dalam kasih yang menyatu putih, berjuntai kenangan dan harapan yang membias meninggalkan pudar warna. Aku terpaku menatapnya, membisu dalam riuh kata yang ingin terucap. Menggores pedih dan luka atas cerita terakhir. Wanita dalam kalbu menatapku, mengirimkan cinta yang tak pernah habis buatku. Aku menatapnya, perlahan memudar dan hilang. Aku kehilangannya.


Sebuah batu hitam di atas tanah merah, tertulis namanya yang indah juga cerita hidupnya yang bermuara padaku. Kematiannya itu terasa menyesakkan, meninggalkan penyesalan mendalam atas sikapku yang nyata tak bersahabat, namun tetap menunjukkan cintanya yang tak pernah pudar berabad lamanya. Airmataku membangun sesal atas cinta yang tak pernah ku berikan tempat yang selayaknya, tentang namanya dan namaku di batu yang ku anggap berlebihan, untuk bunga yang ku cabut dari gitarku dan ku campakkan, kepada kesetiannya yang tak pernah ku balas, dan akulah sang pangeran yang tak pernah membuatnya menjadi puteri yang sebenarnya. Dan kembali menyalahkanku atas semua kelukaan yang dia alami.


Di sini aku tumpahkan rindu, ku genggam dan ku taburkan bunga unntuknya, berlutut dan menitipkan do’a, mimpi indahlah dia sang pemilik cinta, Tuhan ada di sampingnya dalam sorga abadi. Aku mencintaimu, Camelia,….


Epilog


Aku mengenalnya sebagai wanita lembut yang terlalu sering terluka cinta. Bagiku, wajah cantiknya melambangkan kesempurnaan akan kesabaran tak bertepi. Tutur santun indah tercipta lewat harapan tak hampa. Dia telah sempurna, membebaskan hatinya untuk terbang bagai burung camar, Dia telah memiliki hati utuh yang mendamaikannya. Dia, wanita tegar yang tak lagi diam – diam menangis dalam malamnya dan merindukan esok ceria.


Embun pagi tak lagi menyapaku dalam segarnya. Matahari memandangku sebagai pecundang. Sore menghantarkanku pada penyesalan mendalam kepadanya. Dan malam menghukumku dalam penantian panjang. Aku menunggunya kembali, membebaskan nasibku dari belenggu sepi.


Semarang, 9 Desember 2011, 08.45 WIB
terinspirasi oleh tembang Camelia #1,Camelia #2,Camelia #3,Camelia #4 karya Ebiet G. Ade yang sudah ku dengar berpuluh tahun yang lalu.

Jumat, 19 Agustus 2011

Pulang



dan aku disini, selaksa berjalan tanpa tepi, kerontang tersapu panas yang tak juga melegakan,dan bulir sesal menyamai langkah,.aku lelah,..

tak juga mampu mengurai arti tangis dalam dada, ketika kerinduan tak lagi memiliki tema, seolah semua pergi tanpa pernah kusadari dan merenggut sekian makna dalam rasa, aku lelah,..

memilih terdiam dan berbicara tanpa kata, cerita tak juga menyurutkan resah, kedamaian menjadi mimpi, mulai terbang di awan, aku lelah,..

ketika aku pulang, aku ingin bertemu denganmu,..

Jumat, 12 Agustus 2011

s i a

menyusuri pasir - pasir,
selaksa menyusuri hati yang merindu,
menyebrang lautan
seumpama gejolak yang tak mampu kupahami.

kini aku tiba,
menjejakkan kaki
bersiap berlari menyambutmu,..

kau tak ada,..
tak pernah ada disini,..

aku meyakinkan hatiku,..
semua ini sia - sia,..


semarang, 7 Maret 2011, mengingat yang seharusnya,...

Sabtu, 06 Agustus 2011

my lovely life

Its About Love Slideshow: Dita’s trip from Semarang, Java, Indonesia to 2 cities Cilacap and Wonosobo was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

ku panggil dia imut,...

Aku mengenalnya,...

sosok mungil penuh kesabaran,.
penuh gemulai yang memijar aura putih,..
bukan sosok sempurna namun menggambarkan dunia warna memuja,..

Aku mengenalnya,...

sosok lembut dan tanpa prasangka,.
ceria dan tanpa kesah menggema,.
bukan manja namun berada dalam kisah yang tangguh dalam nuansa,..

Aku mengenalnya,..

hati yang tak pernah ku sangka
kisah yang tak henti ku cerna
sapa ikhlas terbalut ramah

Aku memanggilnya,.... imut,...


semarang, 6 Agustus 2011

*Tuhan selalu ada buatmu, Yas,...